August 14, 2008

Misteri Keadilan Tuhan

Ada beberapa e-mail yang aku terima hari ini ... ada yang dari someone special (weits sensor...) yang sudah beberapa minggu terakhir ini intens berhubungan lagi dengan aku ... entah itu telepon, e-mail ato sms ... tapi bukan e-mail dari dia yang aku mau ceritain kali ini ... tapi email dari Karen dan mbak Tini yang subject-nya sama ... "Misteri Keadilan Tuhan".

Misteri Keadilan Tuhan
sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com

Bahwa Tuhan Maha Adil, secara akademik tak seorangpun yang menolak,
tetapi bahwa banyak individu-individu yang secara diam-diam
mempertanyakan keadilan Tuhan juga tak bisa dibantah. Pembicaraan
tentang keadilan Tuhan bukanlah hal baru. Persoalan ini hadir sejak
manusia mengenal baik buruk. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa ada
kejahatan, ada kemiskinan, ada penyakit, atau pertanyaan mengapa si A
yang baik dan pintar nasibnya buruk sedang si B yang jahat dan bodoh
selalu sukses usahanya ?

Sesungguhnyalah bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas menjadi
sangat musykil jika jawabannya dimaksud untuk memuaskan semua nalar,
tetapi jika ingin mencari hikmah dari suatu peristiwa yang tidak
menyenangkan, maka boleh jadi suatu peristiwa yang semula dinilai
negatip, lama-kelamaan akan berubah menjadi positip setelah kita bisa
mendudukkan peristiwa itu dalam konteks yang lebih panjang. Suatu
golongan meratap-ratap ketika ketuanya yang terpilih menjadi presiden
dijatuhkan oleh lawan di tengah masa jabatannya. Segala macam usaha,
bahkan doa-doa andalan istighasah pun sudah dipanjatkan untuk
mempertahankan kedudukan sang presiden. Kecewa, sedih, marah dan
dendam bercampur aduk dalam hati kelompok itu mengiringi jatuhnya sang
presiden. Tetapi setelah setahun berlalu, setelah berbagai peristiwa
terjadi, nampak bahwa dibalik hal yang mengecewakan itu terdapat
hikmah yang luar biasa besarnya.

Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dinamakan kebaikan atau
keburukan dalam perspektip diatas sebenarnya tidak ada, atau paling
tidak adanya itu hanya dalam nalar manusia yang memandang secara
parsial, karena segala hal yang datang dari Tuhan itu pastilah
kebaikan, karena sebagaimana disebutkan al Qur'an, Dialah yang
membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya (Q/32:7). Keburukan itu
ada hanya karena keterbatasan pandangan manusia saja. Segala sesuatu
sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia yang terbatas itulah yang
mengiranya buruk. Nalar tidak dapat menembus semua dimensi. Seringkali
ketika seseorang memandang sesuatu secara mikro, hal itu dinilainya
buruk dan jahat, tetapi jika dipandang secara makro dan menyeluruh,
justru hal itu merupakan unsur keindahan. Tahi lalat jika dilihat
secara mikro, yakni tahi lalat itu sendiri maka pasti ia nampak buruk,
tetapi jika dilihat dalam kerangka wajah pemiliknya, maka tahi lalat
itu justru bisa menjadi faktor utama kecantikan wajah pemiliknya.

Sama halnya ketika kita melihat orang yang kakinya dipotong, terasa
ada kekejaman di dalamnya, tetapi jika kita tahu bahwa yang
mengamputasi itu dokter sebagai upaya penyelamatan hidup orang itu,
maka kita bisa berkata, untung ada dokter yang sempat mengamputasinya,
dan di dalamnya ada nuansa terima kasih kepada yang memotong kaki.
Oleh karena itu kita tidak boleh memandang kebijaksanaan Allah secara
mikro, atau, sekurang-kurangnya ketika kita belum bisa memahami hal
itu, kita harus meyakini bahwa dibalik itu ada hikmah tersembunyi.

Perhatikan bagaimana al Qur'an membimbing kita melihat masalah,
seperti yang tersebut dalam surat al Baqarah ayat 216; …..Boleh jadi
engkau membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi engkau
menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu
tidak mengetahui (Q/2:216).

Renungkan pula bagaimana proses yang mengantar manusia (dan makhluk
lain) pada kebahagiaan, ternyata di sana ada pihak yang harus menjadi
korban. Pesta perkawinan yang sangat membahagiakan ternyata harus
didukung oleh pengorbanan banyak hewan yang harus disembelih.
Kemerdekaan suatu bangsa juga harus didukung oleh pengorbanan sebagian
dari warganya, yakni dengan gugurnya para pahlawan di medan perang.
Disadari atau tidak, sebenarnya setiap pribadi harus bersedia
berkorban demi kebahagiaan bersama, dan untuk itu harus ada diantara
mereka yang bersedia menjadi korban demi kebahagiaan makhluk secara
keseluruhan. Pengorbanan itu merupakan syarat kesempurnaan jenis
makhluk, termasuk manusia.

Korban (yang mengalami "keburukan") harus ada demi mewujudnya kebaikan
dan keindahan. Suatu bahaya yang mencekam ternyata melahirkan
keindahan berupa munculnya orang-orang pemberani yang berhasil
mengusir bahaya itu. Pengalaman menderita sakit parah ternyata bisa
mendatangkan rasa keindahan, yakni ketika merasakan betapa nikmatnya
kesehatan. Kesabaran dipuji orang, tetapi apa artinya kesabaran jika
tidak ada malapetaka? Nah, siapa yang harus mengalami semuanya itu
jika bukan makhluk? Jika penderitaan itu terjadi karena kesalahan,
maka hal itu sudah setimpal dengan ulahnya, sedangkan jika seseorang
tidak bersalah tetapi menjadi korban, maka pengorbanan manusia akan
dibalas oleh Allah dengan ketinggian derajat di akhirat (Q/2:155-157) .

Menurut al Qur'an, Allah memberikan potensi kepada manusia untuk mampu
memikul kesedihan dan melupakannya. Dalam surat at Taghabun disebutkan
: …."Tidak satupun petaka yang menimpa seseorang kecuali dengan izin
Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah)
akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu (Q/64:11).

Dapat disimpulkan bahwa untuk memahami tujuan keberadaan dirinya,
manusia harus bekerjasama memikul bencana. Tanpa memahami kerjasama
itu maka manusia tidak akan mampu memahami makna kehadirannya sebagai
manusia.

Tuhan Maha Sempurna, sementara nalar manusia tidak sempurna. Keadilan
Tuhan adakalanya dapat difahami oleh nalar manusia dan seringkali
tidak. Kita pernah diributkan oleh lirik lagu yang mengatakan bahwa
takdir itu kejam, padahal takdir Tuhan pastilah adil. Persoalan
keadilan Tuhan dalam sunnatullah memang bukan problem nalar, tetapi
problem rasa, sebagai akibat dari keinginan manusia untuk selalu
mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, keluarganya atau kelompoknya
saja hingga melupakan yang lain. Jika problemnya demikian maka yang
mampu menanggulanginya adalah rasa juga. Disinilah agama dan keyakinan
berperan besar. Wallohu a`lam bissawab.


No comments: