Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

December 17, 2008

BEI oh BEI

Pas aku mau makan siang sama Devi ... di depan kantorku ada banyak mobil polisi dan gegana ... Sebenernya pemandangan ini udah dari kemarin ... cuma tidak seheboh hari ini ... Kita banyak yang ber-tanya2 ada apa sih sebenernya??? Ada yang bilang Bpk SBY mau dateng lah ... ada yang bilang latihan evakuasi ... Yang pasti membuat kita ketakutan ... soalnya pake ada bunyi tembakan segala ... Maklum kantor kita pernah kena bom beberapa taun yang lalu ... jadi kalo ada bunyi2 seperti itu ... cukup membuat jantung kita deg2an ... dan jalan yang di depan kantor kita sempet ditutup untuk beberapa lama ... wah gak ngebayang nih macetnya kayak apa tuh Senopati dan sekitarnya ...

Dasar aku yah ... diantara panik dan teriknya matahari ... sempet2nya minta Devi untuk ambil gambarnya ... he he he ...

Kalo yang belum sempet liat dan mau tau lebih kurang kondisinya seperti apa ... nih dia ...

click image for larger view

August 19, 2008

17an with All In


Dari beberapa hari sebelum hari kemerdekaan tiba, aku dapet announcement kalo tanggal 18 Agustus kantor libur ... asyikk ... berarti long week end donk ... Sabtu, Minggu, Senin ... karena hari kemerdekaan (baca tanggal 17 Agustus) jatuh pada hari Minggu, makanya Senin-nya diliburin ...

Karena gak ada planning mau ke-mana2 walopun libur 3 hari ... makanya beberapa hari sebelumnya aku pinjem VCD Korea sama Chiko (temen sekantor, beda divisi, beda Tower pula ... gak pernah ketemu ... ketemu2 kalo ada acara kantor ... he he he tapi kita tetep keep contact loh ... jauh di mata dekat di hati) untuk mengisi liburan-ku yang 3 hari itu .... kebetulan Chiko punya cukup banyak koleksi ...

Ewi : Chiko, mau pinjem DVD/VCD Korea donk. Boleh gak?
Chiko : Boleh. Mau yang apa, mbak?
Ewi : Maksudnya apa?
Chiko : Mau yang sedih ato yang lucu?
Ewi : Mau yang sedih tapi happy ending (ngarep hidupku juga kayak gitu .. he he he) tapi yang main Song .... siapa gitu ...
Chiko : Song Hye Gyo ...
Ewi : Iya (dalem hati .. gila yah Chiko ngelotok banget)
Chiko : Ada, mbak. Besok aku bawain.
Ewi : Makasih yah, Chiko.

Akhirnya besoknya, Chiko bawain VCD yang dimaksud. Judulnya "All In". Aku inget film ini pernah diputer di salah satu stasiun TV swasta udah agak lama deh ... aku lupa persisnya kapan ...

Walaupun VCD udah di tangan tapi aku harus menahan keinginanku untuk menontonnya ... uh padahal penasaran banget ...
Sampe lah pada 17 Agustus ... aku mulai nonton 1 demi 1 VCD-nya ... yah gak melulu aku nonton film itu terus ... ada kepotong2nya ... tapi ending setiap VCD tuh selalu bikin penasaran ... makanya aku bela2in sampe jam 01.30 pagi aku nonton VCD itu terus ... dan tanggal 18 Agustus siang sudah tamat aku tonton semuanya ...

Ceritanya bagus ... ada action-nya ada percintaan ... pemeran utama cowoknya ... diperankan oleh Lee Byung Hun ... aku suka dia disitu ... laki banget ... walopun menurutku mukanya gak secakep bintang film Korea yang lainnya tapi macho abisssss ... pemeran ceweknya yah sih Song Hye Kyo itu ... intinya walopun dipisahkan oleh apapun .. tapi cinta mereka tetap kuat ... dan akhirnya mereka jadi satu ... bahasa gaulnya "jodoh gak kemane" ...
Mungkin aku termasuk orang yang melo yah ... makanya sempet di beberapa scene aku menitikkan air mata ... hiks hiks ...


August 14, 2008

Misteri Keadilan Tuhan

Ada beberapa e-mail yang aku terima hari ini ... ada yang dari someone special (weits sensor...) yang sudah beberapa minggu terakhir ini intens berhubungan lagi dengan aku ... entah itu telepon, e-mail ato sms ... tapi bukan e-mail dari dia yang aku mau ceritain kali ini ... tapi email dari Karen dan mbak Tini yang subject-nya sama ... "Misteri Keadilan Tuhan".

Misteri Keadilan Tuhan
sumber, http://mubarok- institute. blogspot. com

Bahwa Tuhan Maha Adil, secara akademik tak seorangpun yang menolak,
tetapi bahwa banyak individu-individu yang secara diam-diam
mempertanyakan keadilan Tuhan juga tak bisa dibantah. Pembicaraan
tentang keadilan Tuhan bukanlah hal baru. Persoalan ini hadir sejak
manusia mengenal baik buruk. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa ada
kejahatan, ada kemiskinan, ada penyakit, atau pertanyaan mengapa si A
yang baik dan pintar nasibnya buruk sedang si B yang jahat dan bodoh
selalu sukses usahanya ?

Sesungguhnyalah bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas menjadi
sangat musykil jika jawabannya dimaksud untuk memuaskan semua nalar,
tetapi jika ingin mencari hikmah dari suatu peristiwa yang tidak
menyenangkan, maka boleh jadi suatu peristiwa yang semula dinilai
negatip, lama-kelamaan akan berubah menjadi positip setelah kita bisa
mendudukkan peristiwa itu dalam konteks yang lebih panjang. Suatu
golongan meratap-ratap ketika ketuanya yang terpilih menjadi presiden
dijatuhkan oleh lawan di tengah masa jabatannya. Segala macam usaha,
bahkan doa-doa andalan istighasah pun sudah dipanjatkan untuk
mempertahankan kedudukan sang presiden. Kecewa, sedih, marah dan
dendam bercampur aduk dalam hati kelompok itu mengiringi jatuhnya sang
presiden. Tetapi setelah setahun berlalu, setelah berbagai peristiwa
terjadi, nampak bahwa dibalik hal yang mengecewakan itu terdapat
hikmah yang luar biasa besarnya.

Sebagian ulama menyatakan bahwa yang dinamakan kebaikan atau
keburukan dalam perspektip diatas sebenarnya tidak ada, atau paling
tidak adanya itu hanya dalam nalar manusia yang memandang secara
parsial, karena segala hal yang datang dari Tuhan itu pastilah
kebaikan, karena sebagaimana disebutkan al Qur'an, Dialah yang
membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya (Q/32:7). Keburukan itu
ada hanya karena keterbatasan pandangan manusia saja. Segala sesuatu
sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia yang terbatas itulah yang
mengiranya buruk. Nalar tidak dapat menembus semua dimensi. Seringkali
ketika seseorang memandang sesuatu secara mikro, hal itu dinilainya
buruk dan jahat, tetapi jika dipandang secara makro dan menyeluruh,
justru hal itu merupakan unsur keindahan. Tahi lalat jika dilihat
secara mikro, yakni tahi lalat itu sendiri maka pasti ia nampak buruk,
tetapi jika dilihat dalam kerangka wajah pemiliknya, maka tahi lalat
itu justru bisa menjadi faktor utama kecantikan wajah pemiliknya.

Sama halnya ketika kita melihat orang yang kakinya dipotong, terasa
ada kekejaman di dalamnya, tetapi jika kita tahu bahwa yang
mengamputasi itu dokter sebagai upaya penyelamatan hidup orang itu,
maka kita bisa berkata, untung ada dokter yang sempat mengamputasinya,
dan di dalamnya ada nuansa terima kasih kepada yang memotong kaki.
Oleh karena itu kita tidak boleh memandang kebijaksanaan Allah secara
mikro, atau, sekurang-kurangnya ketika kita belum bisa memahami hal
itu, kita harus meyakini bahwa dibalik itu ada hikmah tersembunyi.

Perhatikan bagaimana al Qur'an membimbing kita melihat masalah,
seperti yang tersebut dalam surat al Baqarah ayat 216; …..Boleh jadi
engkau membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi engkau
menyenangi sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu
tidak mengetahui (Q/2:216).

Renungkan pula bagaimana proses yang mengantar manusia (dan makhluk
lain) pada kebahagiaan, ternyata di sana ada pihak yang harus menjadi
korban. Pesta perkawinan yang sangat membahagiakan ternyata harus
didukung oleh pengorbanan banyak hewan yang harus disembelih.
Kemerdekaan suatu bangsa juga harus didukung oleh pengorbanan sebagian
dari warganya, yakni dengan gugurnya para pahlawan di medan perang.
Disadari atau tidak, sebenarnya setiap pribadi harus bersedia
berkorban demi kebahagiaan bersama, dan untuk itu harus ada diantara
mereka yang bersedia menjadi korban demi kebahagiaan makhluk secara
keseluruhan. Pengorbanan itu merupakan syarat kesempurnaan jenis
makhluk, termasuk manusia.

Korban (yang mengalami "keburukan") harus ada demi mewujudnya kebaikan
dan keindahan. Suatu bahaya yang mencekam ternyata melahirkan
keindahan berupa munculnya orang-orang pemberani yang berhasil
mengusir bahaya itu. Pengalaman menderita sakit parah ternyata bisa
mendatangkan rasa keindahan, yakni ketika merasakan betapa nikmatnya
kesehatan. Kesabaran dipuji orang, tetapi apa artinya kesabaran jika
tidak ada malapetaka? Nah, siapa yang harus mengalami semuanya itu
jika bukan makhluk? Jika penderitaan itu terjadi karena kesalahan,
maka hal itu sudah setimpal dengan ulahnya, sedangkan jika seseorang
tidak bersalah tetapi menjadi korban, maka pengorbanan manusia akan
dibalas oleh Allah dengan ketinggian derajat di akhirat (Q/2:155-157) .

Menurut al Qur'an, Allah memberikan potensi kepada manusia untuk mampu
memikul kesedihan dan melupakannya. Dalam surat at Taghabun disebutkan
: …."Tidak satupun petaka yang menimpa seseorang kecuali dengan izin
Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah)
akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu (Q/64:11).

Dapat disimpulkan bahwa untuk memahami tujuan keberadaan dirinya,
manusia harus bekerjasama memikul bencana. Tanpa memahami kerjasama
itu maka manusia tidak akan mampu memahami makna kehadirannya sebagai
manusia.

Tuhan Maha Sempurna, sementara nalar manusia tidak sempurna. Keadilan
Tuhan adakalanya dapat difahami oleh nalar manusia dan seringkali
tidak. Kita pernah diributkan oleh lirik lagu yang mengatakan bahwa
takdir itu kejam, padahal takdir Tuhan pastilah adil. Persoalan
keadilan Tuhan dalam sunnatullah memang bukan problem nalar, tetapi
problem rasa, sebagai akibat dari keinginan manusia untuk selalu
mendapatkan yang terbaik untuk dirinya, keluarganya atau kelompoknya
saja hingga melupakan yang lain. Jika problemnya demikian maka yang
mampu menanggulanginya adalah rasa juga. Disinilah agama dan keyakinan
berperan besar. Wallohu a`lam bissawab.


May 09, 2008

Mengucap Syukur

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"
Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.
Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hidup adalah anugerah
Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.
Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.

NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI!

April 24, 2008

Bagaimana Kita Menghadapi Cobaan?

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya. Dia bertanya mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan. Dia tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya. Dia nyaris menyerah kalah dalam kehidupan. Setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan mendidihkannya di atas kompor. Setelah air di dalam ketiga panci tersebut mendidih, dia memasukkan lobak merah ke dalam panci pertama, telur dalam panci kedua, dan serbuk kopi dalam panci terakhir. Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak bertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya. Setelah 20 menit, si ayah mematikan api. Dia menyisihkan lobak dan meletakkannya dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lain. Lalu dia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, Nak?" "Lobak, telur dan kopi", jawab si anak. Ayahnya meminta anaknya memakan lobak itu. Dia melakukannya dan mengakui bahwa lobak itu nikmat. Ayahnya meminta dia mengambil telur itu dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia dapati sebiji telur rebus yang matang. Terakhir, ayahnya meminta untuk minum kopi. Dia tersenyum ketika meminum kopi dengan keharuman aroma. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini,ayah?"

Si ayah, sambil tersenyum menerangkan bahawa ketiga bahan itu telah menghadapi kesulitan yang sama, direbus dalam air dengan api yang panas tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan mudah dimakan. Telur mudah pecah dengan isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Serbuk kopi pula mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi mengubah warna dan rasa air tersebut. "Kamu termasuk golongan yang mana? Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui. Ketika kesukaran dan kesulitan itu mendatangimu, bagaimana harus kau menghadapinya ? Apakah kamu seperti lobak, telur atau kopi?" tanya ayahnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita adalah lobak yang kelihatan keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah menjadi lembut dan kehilangan kekuatan. Atau, apakah kita adalah telur yang pada awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya kematian, patah hati, perpisahan atau apa saja cobaan dalam kehidupan akhirnya kita menjadi menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Atau adakah kita serbuk kopi? Yang mampu mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, menjadi sarana mengubah dirinya mencapai kualitas yang lebih tinggi lagi. Jika kita seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk atau memuncak, kita akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitar kita juga menjadi semakin baik.

Antara lobak, telur dan kopi, engkau yang mana?

April 11, 2008

Doa untuk Sekeranjang Tempe

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang Ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.
Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas.
Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil.
Maka, ditengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang Hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe .
Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."
Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe.
Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi.
Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut.
"Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya.
Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan.
Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.
Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan?
Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.
Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah Tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya.
Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??"
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat.
Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.
"Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe
" Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ..."
"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi.
Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! . Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"
"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, Sultan, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe , asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan.
Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"
Ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita.
Bahwa semua rencananya adalah sempurna.